Kantor
Mail Address :
Perumahan Taman Laguna, Ruko No. 112
Jl. Alternatif Cibubur
Bekasi 17435
(+62 21) 8459-0227
(+62 21) 8459-0227
sekretariat@gpmt.id
![]()
![]()
Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (GPMT) bekerjasama dengan USSEC (U.S. Soybean Export Council) mengadakan serangkaian workshop yang dilaksanakan di Cipanas, Jogjakarta, dan Cirebon. Peserta workshop berasal dari pembudidaya dan perwakilan dari perusahaan pakan ikan. Materi yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan stakeholder perikanan setempat.
Technical Manager Aquaculture USSEC, Pambudi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan USSEC kepada GPMT dan pembudidaya di Indonesia agar lebih maju dan kompetitif. “USSEC senantiasa selalu mendukung industri pakan untuk mengembangkan pakan yang lanjut Pambudi.
Daya Dukung Perairan
Workshop pertama dilaksanakan di Cipanas menghadirkan tema “Better Feed Management and Floating Cage Sustainable Aquaculture” (13/10). Selaku pembicara, Nur Bambang Priyo Utomo, Dosen Departemen Budidaya Perairan Institut Pertanian Bogor (IPB), menjelaskan bahwa daya dukung perairan untuk pengembangan Keramba Jaring Apung (KJA) merupakan kriteria tingkat produksi maksimum yang dapat dicapai berdasarkan kadar total fosfor yang masih dapat diterima sesuai kepentingan pemanfaatan perairan (Beveridge, 1984).
Lebih lanjut Bambang menyebutkan, keberadaan KJA dapat memperkaya lingkungan dengan buangan pakan termetabolisir dan yang tidak termakan. Sampai batas tertentu akan bermanfaat karena mening katkan produksi ikan. Apabila melebihi jumlah, zat-zat hara yang memperkayanya menjadi pencemar. Pencemaran sendiri dari aktifitas KJA sering ditandai dengan kematian massal ikan.
“Bahan-bahan yang memperkaya atau mencemari akibat budidaya terutama berasal dari fosfor dan nitrogen yang dikandung oleh pakan. Jumlah produksi yang dapat ditolerir oleh lingkungan tertentu dapat ditentukan berdasarkan jumlah pakan yang diperlukan untuk menghasilkan ikan,” terangnya.
Pada kesempatan yang sama Sigid Hariyadi, Dosen Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan IPB menerangkan daya dukung atau daya tampung beban pencemaran merupakan kemampuan suatu sumber air untuk menerima beban pencemaran tanpa menyebabkan air tersebut menjadi tercemar. Perhitungan daya dukung berdasarkan pendekatan kandungan oksigen, amonia (total ammonia nitrogen) kandungan fosfor. “Konsumsi oksigen di perairan dibatasi sampai jumlah tertentu sehingga kadar oksigen tersebut tidak kurang. Hasil penelitian menunjukkan untuk tiap kg pakan memerlukan konsumsi oksigen sebesar 225 gr oksigen. Berdasarkan angka tersebut kita bisa menentukan/ membatasi penggunaan pakan yang bisa kita berikan ke perairan, supaya kadar oksigen tidak berkurang,” jelas Sigit.
Sertifikasi CBIB
Rangkaian workshop selanjutnya dilaksanakan di Jogjakarta dengan pembahasan mengenai sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) atau Good Aquaculture Practices (GAP) Budidaya Ikan dan manajemen pakan ikan bagi technical service pabrik pakan dan pembudidaya ikan. Kasubdit Sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Chaery Novari memberikan materi urgensi CBIB, sistem asesmen dan cara pengurusan sertifikasi CBIB. “Guidance pada CBIB bukanlah petunjuk cara budidaya, tetapi petunjuk apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan dalam pembudidayaan ikan sebagai komoditas pangan, sehingga bebas dari residu dan kontaminasi agar aman dikonsumsi manusia,” ungkap Chaery.
CBIB didefinisikan sebagai cara memelihara dan/atau membesarkan ikan serta memanen hasilnya dalam lingkungan yang terkontrol. Dengan demikian dapat memberikan jaminan keamanan pangan dari pembudidayaan dengan memperhatikan sanitasi, pakan, obat ikan, dan bahan kimia serta biologis. Semua negara tujuan ekspor perikanan, kata Chaery, cenderung mengikuti standar Uni Eropa (UE) yang sangat ketat. “Bagi kita pun, meski ekspor ke UE tidak sebesar ke Amerika dan Jepang, tetap menjadi etalase kualitas produk Indonesia. Kalau ke UE bisa tembus, ke negara lain pun akan lebih mudah,” ungkap-nya. Uni Eropa mewajibkan cold storage yang akan mengekspor produk perikanan budidaya ke UE wajib mendapatkan pasokan produk dari budidaya yang telah memiliki sertifikasi CBIB.
Chaery menerangkan, paradigma CBIB yang diusung saat ini masih fokus pada keamanan pangan yang dirumuskan dalam Sistem Jaminan Keamanan dan Mutu Hasil Perikanan saja. “Tahun depan standar CBIB ini akan berubah mengikuti standar ASEAN dan FAO Guidelines on Aquaculture,” tegasnya. Kriteria berikut bobotnya sebagaimana disyaratkan oleh CBIB versi-2 standar Asean ada 4. Kriteria tersebut yaitu food safety and quality (10 poin), animal health and welfare (6 poin), environmental integrity (6 poin), serta socio-economic aspects (4 poin).
Manajemen Pakan
Materi feeding management (manajemen pakan) disampaikan oleh I Gede S Sumiarsa, peneliti dari Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut Gondol. Peserta dikenalkan dengan cara memilih pakan yang tepat secara teknis maupun ekonomi, metode pem-berian pakan kenyang 90% dan cara memperlakukan agar tidak mengalami penurunan kualitas. “Pakan adalah uang pembudidaya karena merupakan biaya terbesar. Maka harus dicari upaya agar pemberian pakan bisa efektif dan efisien,” tegasnya.
Ketua Divisi Pakan Ikan GPMT Denny D Indradjaja menyampaikan dalam waktu 4 tahun produksi pakan dunia melonjak dari 865 juta ton pada 2011 menjadi 970 juta ton pada 2014, sehingga terjadi perebutan bahan baku dengan sektor pangan dan fuel. “Lumrah, jika akhirnya bahan baku pakan semakin mahal,” tegasnya.
Di Indonesia, terjadi peningkatan signifikan, pada 2011 produksi pakan sebesar 1.155.000 ton, dan pada 2014 sudah menjadi 1.478.300 ton. Walaupun demikian, angka itu baru 11% dari total produksi pakan nasional yang masih didominasi pakan unggas (83%).Berbicara mengenai kiprah GPMT dalam sosialiasi CBIB, Denny menyatakan organisasinya sudah 2 kali mengadakan sosialisasi dan workshop CBIB ini bersama USSEC. “Kita harus sosialisasikan, sertifikasi CBIB itu mutlak agar kita bisa bersaing di era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean). Kita belum ada apa-apanya dengan kesiapan pembudidaya ikan Thailand dan Vietnam. Mereka lebih siap, dan kita akan bersaing dengan mereka di pasar domestik tahun depan,” ungkapnya.Denny menambahkan, subsektor perudangan lebih siap daripada budidaya ikan. “Sudah 40 % petambak memenuhi sertifikasi CBIB. Karena udang orientasinya sejak dulu adalah ekspor yang salah satu syaratnya adalah sertifikasi ini,”tegasnya.